
Dalam keluarga besar PSM-ITB yang bahagia, lucu, menggemaskan, kadang harmonis kadang fales, serta penuh ke-kacau-balau-an, terdapat beberapa keluarga kecil. Salah satu-nya adalah keluarga Dalton. Anda kaget? Ya, betul, anda tidak salah baca. Keluarga Dalton adalah bagian dari keluarga PSM-ITB dan tercatat sebagai Edoeners pula!
Keluarga Dalton, yang terdiri dari empat Dalton bersaudara dan seorang ibu, sangat disegani, ditakuti, dan disangari. Bagaimana edoeners lainnya tidak segan, ke-empat Dalton bersaudara beserta emak-nya ini tampangnya sangatlah serius dengan kaca mata tebal yang nongkrong di hidung mereka yang jelas sekali batangnya. Mereka pun sering menatap edoeners lainnya dengan pandangan sangar, kosong, nanar, nanang, nunut, manut, loloma, loloma, loloma.
Apa sih yang melintas dalam benak anda kalau mendengar kata-kata Dalton bersaudara???
Orang normal yang suka membaca kisah petualangan Lucky Luke tentunya akan teringat Avarell, William, Jack dan Joe Dalton. Tapi bagi orang-orang melebihi normal yang bercokol di PSM ITB selama waktu tertentu, perwujudan Dalton bersaudara yang lebih afdol muncul dalam bentuk Harold Dalton TA 87, Bonar Dalton SI 89, Ming Hui Dalton IF 90, dan jangan lupa Melvin Dalton Simatupang IF 9? yang legendaris.
Keempat bandi…. eh … cowok di atas memenuhi kriteria yang memadai untuk beraksi seperti Dalton bersaudara. Selain memiliki jenis suara yang sama, kecuali si bungsu Melvin yang termasuk kelompok, uhm…, tenoraltosoprabasoka (yang adalah termasuk jenis suara langka yang merupakan penggabungan antara Michael Jackson, Mickey Mouse, vacuum cleaner dan deritan engsel pintu yang tak berminyak) dan tinggi yang beragam (mengikuti pola tangga nada dengan interval yang tumpang tindih antara mol and kres ), mereka juga sama-sama mengagumi seseorang yang menjadi panutan mereka berempat, yang tak lain dan tak bukan adalah Mak Dalton alias Dedet Suredet AR 92, yang ditengah kesibukannya beraksitrekturia masih sempat mendidik anak-anak-nya untuk berburu, menembak, menggali lubang, dan menggundaling.
Layaknya seorang ibu dengan empat anak cowok yang bringas, sangar, dan preman (walaupun pada dasarnya mereka berhati selembut kambing, eh, domba), Mak Dalton sangat memperhatikan dan ‘menyayangi’ mereka. Ini terbukti dari kalimat khas, “Kadieu, siah!!!!” yang digunakan untuk memanggil anak2nya.
Walaupun sangat menyayangi anak-anaknya, Mak Dalton cukup streng dalam mengepalai keluarga. Empat jadi-jadian bandit legendaris jaman si Lukirekireaje ini sama sekali tidak dimanja, malah sepertinya keempat Dalton bersaudara dibiarkan hidup bebas sorak-sorak bergembira karena Mak Dalton menganut paham pendidikan liar dan gembel-isme. Jejak-jejak liar-gembel-isme ini terbukti dan terpatri dalam atribut2 Dalton bersaudara yang unik, ajaib dan tiada duanya, seperti:
- Jaket himpunan merah rombeng yang aromanya begitu aduhai. Jaket ini sempat diburu oleh matador-matador top dunia karena katanya aromanya bisa membuat banteng liar termehe-mehe terhuek-huek sempoyongan.
- Kemeja kotak-kotak yang disinyalir hanya sempat dicuci 2 kali setahun, yakni sesudah sang pemilik jatuh ke air comberan dan ketika pemuda Dalton satu ini jatuh cinta di antara becak-becak di Yogyakarta
(bukan jatuh cinta pada mas tukang becak ya?) - Colt buntung yang kadang2 harus ditekan bersama-sama oleh berbagai tubuh alias didorong dari Sekre sampai Bandung coret alias Cimahi, serta
- Suara delapan oktav yang melebihi Mariah Carey.
Biarpun mereka hidup hanya ditemani oleh seorang ibu yang bawel-surawel dan dedet-suredet, Dalton bersaudara terlihat bahagia dan sepertinya tidak memerlukan kehadiran seorang tokoh ayah dalam hidup mereka. Gosip yang pernah menyebar mengisahkan tentang seorang anggota PSM lain yang berbentuk seperti Pembantu Rektor III ITB saat itu, sebagai figur ayah yang malu-malu tapi tidak mau bertanggung jawab. Sementara itu berita dari burung2 koak di jalan Ganesha memaparkan bahwa sang ayah memilih untuk lari tanggung jawab karena merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ke-empat anak laki-lakinya memiliki selera makan yang dashyat yayat surasyat. Selain selalu banjir keringat ketika makan, mereka juga sering membuat para doggie di ITB lari ketakutan.
Tak dapat disangkal, ritual makan bersama adalah tali pemersatu keluarga Dalton. Ibu dan anak-anak memiliki hobi makan bersama di sejenis kedai makanan yang menghidangkan segala jenis binatang yang dalam sejarah kehidupannya sempat menguik maupun menggonggong. Mereka memang bersahabat baik dengan pemilik dan simpatisan lapau Gundaling si putra Peting.
Saat ini keempat Dalton bersaudara sudah tersebar di muka bumi. Dalton terkolot telah memilih jalan hidup sesuai hobi turut mensukseskan tersebarnya kanker paru. Dalton ke-dua sukses mengelabu… – eh mendapatkan sebentuk penyanyi Sopran (sesuai peruntukan – Sopran untuk Bass, Alto untuk Tenor – tapi tidak menghalangi terjadi skandal antara sesama Tenor maupun antara Tenor dan Bass). Dalton ke-tiga kemungkinan masih menjalankan bisnis sebagai pendekar selaksa virus walaupun sudah beralih fungsi sebagai preacher sekaligus dessicant di sebuah gereja. Yang masih misterius adalah keberadaan anggota Dalton termuda, yakni Melvin Averell Dalton. Apa sebab musabab menghilangnya Dalton yang satu ini? Apakah ini ada hubungannya dengan absennya Mak Dalton dari dunia dalam berita? Mungkinkah Mak Dalton dan Dalton bersaudara bersatu kembali? Aaah, mungkin hanya Ran Tan Plan yang tahu jawabannya. Guk…guk…guk.
by: Rontjes RAD & Lady Day
7 Comments
April 30, 2007 at 12:44 pm
posting yang mana sangatlah te o pe be ge te…
yang menjadi pertanyaan penting lainnya adalah di manakah loloma, loloma, loloma (bukan lolongan) berada?
dan bukankah dalton terkolot juga sukses mengelabu… kakaknya seorang sopran?
-rino
April 30, 2007 at 2:49 pm
Buat nyari keluarga Dalton yang ilang, mungkin emang cuma Ran Tan Plan yang bisa nyari.
Kalo ngga salah, dulu itu yang inisial RAD, yang ikutan jadi Ran Tan Plan-nya itu.
May 1, 2007 at 2:04 am
@ rino: dalton terkolot tepatnya mengelabui, yakni sebuah proses yang hampir mirip tetapi tidak serupa dan sebangun dengan mengelabu.
May 1, 2007 at 3:48 am
Ming He,
mengingat apa yang terjadi sama Ran Tan Plan terakhir (yang hilang tiada jelas rimbanya pas udah deket Dalton termuda – dan ketemu tinggal dalem bentuk tulang, kulit, bulu dan gigi doang) saya memutuskan menyerahkan tugas sebagai Ran Tan Plan kepada temen-temen penggemar Ran Tan Plan (literally – physically and culinary as well) deh…
May 1, 2007 at 7:36 am
Tolooooong….
loloma itu apaan sih?
dari 4 sodara, yang paling gede avarell, itu yang paling bengak ya?
atoen
May 2, 2007 at 5:31 pm
teh atoen,
waduh, kenapa ngga tahu loloma? coba bikin janji sama bu rino u/ minta kuliah ttg loloma.
averell teh yg paling kecil umurnya (tapi di Lucky Luke mah yg pangjangkungnya) dan yg rada2 polos lucu pitakoleun…
August 5, 2009 at 4:57 am
ini yg nulis siapa?! Rontje n eMer kah?
wakakakak… aku puas tertawa dan terkaing2.. ;-p
mewakili keluarga besar Dalton yg belakangan sudah jarang berkumpul krn kesibukan masing2, sy sebagai anak no2 menyampaikan terima kasih dan penghargaan yg sebesar2nya kepada mas Ron2 dan tante eMer yg telah meng’abadi’kan kisah perjuangan hidup kami selama menempuh pendidikan di sebuah ruang sempit di Kampus Gadjah Bengkak..
ada salam dari emak Dalton yg sudah mulai sering lupa dengan anak2nya sendiri..
ps: adik kami yg bungsu utk saat ini sedang dalam asuhan paman Hans dan menghabiskan waktu dengan logaritma2 dan program2 yg menjelimet serta sesekali menikmati hangatnya sup ‘kaing2′ dan sepotong daging ‘nguik’..
Dor!!