March 30, 2007...7:35 pm

Garing – meNyublim – meLambai

Jump to Comments

Seperti telah tersirat di posting-posting sebelumnya, psm-itb itu sangatlah penuh dengan ke-loetjoe-an. Namun seringkali pula hal-hal yang dimaksudkan untuk menjadi lucu ternyata mengalami proses pem-Bimo-an atau pe-Youngki-an dan lalu mengalami peng-garing-an yang luar biasa sehingga terjadilah over pe-Minghe-an alias penyumbliman. Formula hubungan antara pelbagai proses, bisa dilihat di posting sebelumnya, tentang okoer-mengokoer ala edoen.

Rantai metaparmasis (eh eta mah meta sofranoh fa ‘92 ya?), maksudnya metamorfosis dari loetjoe ke menyumblim sangatlah sederhana dan mudah dipahami. Namun keadaan yang dimanapun sesuatu keloetjoean dianggap garing atau menyumblim kadang-kadang terletak pada bahasa tubuh dan mimik beunget yang merupakan variabel tak tetap. Adapun mahluk-mahluk tertentu adalah sudah ditakdirkan garing, sehingga apapun yang terjadi, sekali garing tetaplah garing. Bahwasanya mereka tak dapat menjadi loetjoe dan hanya bisa bergeser menjadi menyublim adalah keadaan yang abadi. Mengapa dan bagaimana adalah suatu misteri. Jawabannya, tanyakanlah pada Minghe yang bergoyang, atau pada Umbul-umbul yang melambai.

Yang pasti, di PSM, dan lebih-lebih di kalangan edoeners, mahluk-mahluk garing dan menyublim tak pernah diasingkan. Pada dasarnya kemenyubliman mereka merupakan suatu hiburan bagi para edoeners yang tak sanggup menyublim.

Suatu fasa yang sangat luar biasa yang merupakan mutasi dari rantai metamorfosis alamiah adalah meLambai. Tidak ada hubungannya dengan hablay tapi ada hubungan dekat dengan nyiur melambai dan umbul-umbul.

Fasa meLambai ini merupakan fasa sempurna di mana sebentuk mahluk edoen melakukan gerakan yang tersublimasi melalui dinamika lagu-lagu ritmis seperti Janger, ter-arakijang melalui umbul-umbul yang bergerak di sekitar mahluk tersebut, yang dikombinasikan dengan gerakan himastron seputar mulut dan hembusan panas desah-desah nada-nada tertentu sehingga menimbulkan sensasi luar biasa yang tidak bisa lagi dikategorikan sebagai garing, menyublim ataupun loetjoe, sehingga efeknya adalah tawa dan airmata. Sejauh ini hanya ada satu mahluk di PSM yang sanggup mencapai fasa sempurna ini, yakni seseorang yang merupakan Papih dari kawula Himastron dan sekaligus Papih daripada edoener-edoener yang mengadopsinya sebagai sosok Papih.

Yang mengherankan, ketika nyiur melambai disilangkan dengan umbul-umbul, hasilnya adalah seorang basis. Siapa dan mengapa? Jawabannya tanyakanlah pada Nur Fuad Tsabit Imananah bin bukannya congkak bukannya sombong yang disayangi handai dan taulan.

Demikianlah kisah garing menyublim dan melambai kali ini yang saya tutup secara garing karena sudah jangar dan lieur tidak tahu bagaimana menerangkannya lagi.

Selamat ber-Umbul-umbul!

lady day

7 Comments

  • mMeeeer,
    edoen tenan loh sublimasinya.
    Hablay itu apa ya?
    Hubungannya sama jablay?

  • Ancur abis! (maksudnya: gue sampe terkekeh-kekeh… untung tidak sampe menyublim setelah ngebaca blog ini!).

  • Bul…Umbul….
    Belambangan….

  • untung gue ga pernah jadi saksi mata “Minghe yang bergoyang”, cuman pernah memergoki “Minghe sang pianis”…

    btw, kalo sublimers itu tingkatannya di atas atau di bawah atau di samping edoeners?

    -rino
    menghablay-hablay nyiur di pantai…

  • Mmhhh…..
    Kalo dari tinggi badan so pasti sublimers biasanya di atas edoeners. Kalo enggak mana bisa mereka menghablay-hablay?
    Kalo dari faktor kegaringan mah udah jauh di atas gak bisa disusul, udah limit menuju tak hingga….
    Kalo orang Matematika ajah lieur mikirin korelasi Sublim sama Edoen, apalagi kita yang laen neehhh…. :-)

  • huah mer…kacau luh…gue sampe ditanyain bini gue neeehhh “…wat is er…wat is errr…” pandangannye kawatir campur gembira ngeliat gue ketawa tapi berurai air mata…ah…lu emang yahut deh mer, sanggup menuangkan memori2 indah jaman dulu.

    Eh, tapi sebenernye di atas menyublim itu masih ada satu tingkatan lagi yang cuma bisa dicapai sama satu orang tuh dimana sosok pisiknya menjadi satu dengan istilahnya sendiri yaentu meminghe’ . Ada temen2 laen kagak yang jadi saksi mata waktu kita2 lagi pade ngobrol di sekeliling meja similikiti dan beliauw sedang menulis2 sesuatu di jendela sekre tau2 beliau tiba2 berbalik badan dan nyeletuk terus balik badan lagi menghadap jendela. Proses yang sangat tiba2 dan cepat ditambah gabungan kata-kata yang cuma bisa keluar dari proses me-minghe dan menghasilkan minghe yang sejati…bikin orang mikir harus ketawa apa nggak…kalo ketawa kesian dikira ngetawain (padahal emang iye!) kalo kagak ketawa kok ya kagak bisa nahan. Ato dilaen kali ketika kita lagi berembuk (lagi2 di sekitar meja similikiti) tiba-tiba si pendekar bangkit dari kursi dan mencoba berjalan keluar pintu sekre tapi tak keburu dan bebarapa mol (minjem istilah anak kimia neh) keluar meninggalkan sang minghe menghasilkan tamparan pada lubang hidung dan gendang telinga. Yang herannya ketika ditanya, beliau dengan minghenya berkata: “iya…gua…” sambil tersenyum…..memang sakti tak tertandingi.

  • atoen, bramoes, rontjeh, novel: terimakasih sudah menikmati sajian sublimasi adegan kegaringan.

    bram, airmatamu adalah kebahagiaanku…. huweeek….

    rino: dikau sangat beruntung tidak pernah menyaksikan goyangan umbul2. tapi kisah pianis itu sangat sublim juga!


Leave a Reply